Dunia Cerita

Minggu, 08 Maret 2015

Kisah Memilukan Saya Bersama Sendal Jepit.

Sendal jepit, sendal yang sudah menemani hidup saya selama bertahun-tahun. Yang selalu setia melindungi telapak kaki saya dikala susah maupun senang. Tidak perduli dalam keadaan OUTDOOR ataupun INDOOR sendal jepit ini masih setia berada dikaki, karena kalau berada didada itu namanya BEHA.

Baru ataupun tidak, sendal jepit tetap menjadi sasaran empuk para PENYAMUN sialan dimesjid tiap hari jum'at. Sendal Jepit memang terkadang dipandang sebelah mata, katanya yang mau memakai sendal itu hanya rakyat jelata. Nyatanya diluar sana para orang kaya masih berhajat dengan sendal jepit, minimal mereka memakai sendal jepit buat ketoilet. Karena tidak mungkin mereka ketoilet memakai sepatu ataupun high heel, karena jatuhnya pasti akan terlihat sangat aneh.

Sendal Jepit selain berfungsi sebagai alas kaki buat jalan-jalan juga dapat dijadikan sebagai pengganti sepatu olahraga. Tidak sedikit orang-orang diluar sana jogging dengan menggunakan sendal jepit. Saya contohnya, maklum karena saya sudah tidak punya sepatu olahraga lagi.

Mulai dari Nippon dan Skywife dua merek berbeda namun menurut saya bentuknya sama saja.

Tapi kali ini saya akan bercerita tentang kebersamaan saya dengan sendal jepit pertama saya. Saya masih ingat betul dengan rupa sendal jepit berwarna hijau yang saya beri nama dengan D. Saya pahat disekujur tubuhnya dengan huruf 'D' ditubuhnya biar dunia tahu bahwa dia cuma milik saya.

Kami memang ditakdirkan untuk bersama, seperti sisi negatif dan positif yang saling melengkapi. Kemana-mana kami selalu berdua, tidur pun berdua karena tidak mungkin saya menaruh D diluar. Takut kalau-kalau D diculik lalu dijual keorang yang salah.

Entah sudah berapa banyak masalah yang kami lalui, tidak terhitung. Tapi saya ingat wejangan teman saya yang mengatakan "masalah dalam setiap hubungan adalah tahap dimana hubungan itu akan semakin erat. Asalkan kita bisa melaluinya."

Mulai dari kesalah pahaman hingga pengkhiatan yang nyaris saja membuat hubungan kami kandas ditengah jalan. Kami pernah bertengkar karena kesalah pahaman yang sebenarnya cukup lucu. Saya mengira D mengkhianati kepercayaan saya dengan cara berpindah kaki keorang lain. Meskipun sebenarnya kaki itu adalah kaki ayah saya sendiri, tapi saya tetap boleh cemburu kan mengingat betapa besar cinta saya kepada D?

Hampir berhari-hari saya tidak bertegur sapa dengan D. Setiap kali saya jalan-jalan, saya tidak pernah mengajaknya. Bahkan saya sempat mendapat gebetan baru untuk kaki saya. Lebih sempurna dan high class, walau pun sebenarnya saya juga menikung gebetan kaki ayah saya. Anggap saja ini seperti balas dendam. Disini kadang saya merasa durhaka...

Hingga sampai puncaknya, D dicampakkan begitu saja oleh ayah. Entah karena alasan apa, saya tidak tahu dan tidak ingin tahu. Walhasil D selalu kesepian mengingat saya dan dia juga masih dalam keadaan bertengkar. Namun lama kelamaan saya tidak tega juga melihat dia yang sendiri terus, kesepian dan selalu merasa sendirian. Saya tidak ingin dia berubah menjadi JABLAY yang selalu menggoda kaki-kaki lain untuk memakainya, akhirnya saya menyerah dan mengajak D berbaikan.

Semenjak itu saya semakin lebih mesra dengan D, bahkan saya kerap membawa D kesekolah. Hidup saya sudah sangat bearti semenjak adanya D yang selalu setia menemani saya kemanapun saya melangkah.

Hingga sebuah musibah datang menghampiri saya. Waktu itu tepatnya hari Jum'at, saya meninggalkan D didepan mesjid karena saya harus masuk untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang pria sejati. Setelah selesai shalat jum'at, saya keluar dan saya tidak mendapati D ditempatnya. Saya sudah mencari-carinya keseluruh pelosok mesjid, namun nihil karena saya tidak menemukannya. Seketika pikiran saya langsung kalut, saya begitu panik membayangkan D berada dikaki yang salah.

Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan dia?

Bagaimana kalau dia diperlakukan dengan tidak senonoh?

Entah berapa banyak pertanyaan 'bagaimana' yang muncul dalam benak saya pada waktu itu. Yang jelas tujuan saya pada waktu itu hanya satu, menelpon polisi. Tapi bukannya mendapatkan pertolongan, justru saya dicaci maki oleh pak polisi. Saya bahkan dikatakan sudah gila oleh pemilik suara yang penuh dengan emosi tersebut.

Saya pun memutuskan untuk pulang kerumah, dan menghambur kepelukan ibu saya begitu sudah sampai. Ibu sempat bertanya-tanya kenapa saya menangis seperti itu. Saya pun menceritakan semuanya, dan ibu saya nyaris saja mengajak saya keseorang psikologis.

Percayalah, itu rasanya sakit sekali. Lebih menyakitkan dari pada anda sudah selesai berak dan mau cebok, ternyata persediaan air habis.

Berhari-hari saya tidak bisa tidur memikirkan keadaan D, saya benar-benar frustasi pada saat itu. Yang saya lakukan hanya mengurung diri didalam kamar, tidak makan dan tidak minum sama sekali. Sampai akhirnya saya bosan, saya pun memutuskan untuk keluar mencari udara segar.

Saya berjalan mengitari jalanan yang sudah ramai, maklum karena hari sudah sore. Hingga akhirnya mata saya tertuju pada satu sendal jepit yang berwarna hijau tergeletak mengenaskan ditengah jalan. Sebelum sendal itu sempat terlindas oleh sebuah motor yang sedang melaju, saya berhasil menyelamatkannya pada detik-detik terakhir. Sungguh, saya tidak percaya saya dapat melakukan tindakan sekeren itu.

Saya berguling dipinggir jalan sambil tetap memeluk erat sendal jepit yang baru saja saya selamatkan. Saat saya melihat keadaan sendal jepit itu, alangkah terkejutnya saya ketika menyadari sendal itu adalah sebagian dari D (tepatnya bagian sebelah kiri). Saya tidak kuasa menahan tangis melihat D yang keadaannya sangat mengenaskan. Moncongnya yang sedikit robek, ditambah alas bagian atasnya sudah berwarna kuning dan sangat usang, bagian tumit yang sudah sangat tipis. Saya tak kuasa melihat semua luka-luka itu, D pasti sudah disiksa habis-habisan oleh penjahat keji itu. Dan saya meneriakkan nama D yang sudah kehilangan nyawanya, tidak memperdulikan tatapan orang-orang disekitar saya.

Baiklah, saya rasa cukup sampai disini saja cerita dari saya. Saya tidak sanggup, saya tidak kuat... disini saya kadang merasa sedih...

Jujur, saya menangis menulis entah apakah ini pantas disebut sebuah cerpen. Saya merasa imajinasi saya sangat liar, sepertinya otak saya kembali sengklek. Terimakasih
Wasalam.

Ngomong-ngomong, itu ada pict D ketika awal-awal kami bertemu sebelum masa PDKT.

Sabtu, 13 Desember 2014

Curhatan Anak Pesantren.

Sebagai seorang santri, gue mau meng-orasikan bahwa sebenarnya anak pesantren itu ngga kampungan! Ya cuma kadang-kadang sedikit kudet aja sih. Hehe

Banyak orang bilang sekolah dipesantren itu ngga keren, yang ngomong gini pasti belum pernah ngerasain gimana kerennya jadi seorang santri. Iya, dulu gue juga berpikir kayak gitu kok.

Apaan nyantri, ngga keren. Tiap hari make baju koko, sarung, sama peci. Udah gitu harus dikurung dalam asrama lagi, mana ngga ada ceweknya.

Mblo, kalau yang mau ada ceweknya, mending lo ke tempat prostitusi aje. Hehehe

Gara-gara masuk pesantren, gue jadi bisa nemuin manusia-manusia ajaib men! Beneran, dari manusia aneh sampai manusia rakitan ada semua. Kalau dipikir-pikir, pesantren gue itu lebih mirip kayak sekolah khusus dalam film X-Men!

Ada temen gue sebut aja namanya Ucok (Nama disamarkan), dia itu kalau lagi tidur ngga bakalan bisa tenang. Pokoknya badannya bakalan kemana-mana kalau lagi tidur. Dia bakalan kelilingi kamar. Gue takutnya, besok pagi ini anak bakalan langsung jadi haji pas bangun tidur.

Ada juga temen gue yang digelarin lundu. Tau kan apa itu lundu? Ikan yang biasanya ada disungai, kerjaannya mah makan eek doang. Temen gue ini diberi gelar lundu karena pernah 'kekenyangan' pas keluar dari WC. Padahal kejadian sebenarnya doi sehabis makan langsung pipis, makanya pas keluar WC kekenyangan. Tapi ada oknum kamfret yang nyebarin fitnah ngenes dan keji. Dan sebenarnya oknum kamfret itu adalah gue sendiri. Hehehe

Jadi santri itu ada suka dukanya guys. Tantangannya berat, ngga segampang naklukin cabe-cabean. Jadi anak pesantren itu kita selalu dituntut buat jadi tauladan bagi orang lain. Ntar kalau kelakuan kita ngga sesuai sama status kita yang seorang santri, kita bakalan dijelek-jelekin. Tapi kalau kita berusaha buat jaga sikap, berprilaku sesuai sama status yang kita sandang, eh malah dibilang pencitraan. Sialan.

Sebagai santri yang ngga keren-keren amat, gue mau mengedepankan kalau santri itu manusia biasa, bukan manusia harimau ataupun ganteng-ganteng srigila. Kalau misalkan ada santri yang ngga bisa mimpin tahlil, itu wajarlah karena kami itu masih seorang santri. Kan kami masih dalam tahap belajar.

Tapi kadang gue kesel lah sama orang yang selalu nuntut santri harus pinter mimpin tahlil, harus bisa jadi imam dimesjid, macam-macam deh. Dulu waktu gue masih baru jadi santri, pas pulang kampung gue langsung disuruh jadi imam. Jangankan jadi imam, al-fatihah aja gue belom hafal pada waktu itu.

Gue bilang aja kan kalau gue ngga bisa, eh gue malah diomelin sama bokap. Kata beliau kerjaan ane disana pasti cuma tidur dong, padahal kan emang bener.

Misalkan gini, seandainya ada anak kecil baru masuk sekolah. Dihari pertama apa doi bakalan langsung pintar membaca? Ya kagalah! Harus belajar dulu!

Santri kalau ngga bisa mimpin tahlil jangan langsung dituduh macem-macem, namanya juga masih dalam tahap belajar.

Temen gue dulu pernah juga disuruh jadi imam pas sholat magrib. Kebetulan bokapnya itu adalah orang yang rajin ibadah dimesjid. Pas baca do'a, doi malah ngebaca doa buka puasa. Ketika bokapnya nanyain kenapa doi malah ngebaca doa buka puasa bukannya doa setelah sholat, doi cuma ngejawab "Isi semua Doa itu semuanya baik kok pak."

Intinya, santri itu manusia biasa kok. Jangan heran kalau ada ngeliat santri kelakuannya ngga jauh beda sama orang yang bukan santri, karena santri itu belum tentu ustadz. Jaman sekarang mah udah banyak ustadz penipu, bukannya dakwah eh malah narsis-narsisan ditelevisi.

Dan bagi para santri, alangkah lebih baiknya kalau aja kita bisa menjaga nama baik pesantren. Misalnya ya jaga sikap, paling ngga berusahalah untuk menjadi pribadi yang baik. Hehehe

Udah ah, ngga seru juga kalau kita ngomongnya serius kayak gini. Hehehe sekian dulu dan terimakaseh!

Senin, 08 Desember 2014

Puntung rokok yang membawa kenangan

Aku tersenyum miris saat menatap puntung-puntung rokok yang berhamburan dilantai kamarku. Asbak yang seharusnya menampung abu dan puntung rokok tersebut tergeletak dengan posisi terbalik disamping kasur.

Dengan cekatan ku petik puntung-puntung rokok tersebut dan mengembalikannya kedalam asbak. Dan gerakanku terhenti manakala tanganku menggapai puntung rokok yang masih panjang. Yang kira-kira masih bisa dihisap 2-3 kali lagi. Puntung rokok tersebut membuatku teringat kembali padanya. Dan hal itu membuat dadaku terasa sedikit sesak.

Aku jadi teringat kenangan saat kami masih dipesantren.

"Nih, ente sakau kan?" Ryan menyerahkan satu puntung rokok yang masih bisa dihisap beberapa kali.

Aku menghernyit, "Ente muting?"

"Iya, dari pada kita sakau?"

"Terus ente gimana?"

"Tenang aja." Ia tersenyum lebar kemudian ia menunjukkan puntung rokok lain ditangannya.

Kemudian kami menyalakan puntung rokok itu bersama-sama. Asapnya yang kami hembuskan nampak menyatu dengan udara malam yang semakin dingin.

Ku rasakan bibirku membentuk sebuah lengkungan saat mengingatnya. Seingatku, kejadian itu saat pertama kali aku mulai akrab dengan Ryan. Sebenarnya aku sangat sulit untuk berteman, karena aku seseorang yang begitu hati-hati dalam memilih teman

"Yan, ane boleh minta tolong ngga?" Tanyaku suatu sore saat bersantai dibelakang pesantren.

"Apa Us?"

"Ente kewarung gih, ngutang sebungkus rokok dulu. Besok kan kiriman ane datang, ane bakalan langsung lunasin deh. Bilangin gitu sama ibu warungnya."

Ryan mengangguk kemudian pergi kewarung
Kebetulan warung tersebut terletak tidak jauh dari pesantren, dan warung itu memang tempat langganan semua santri. Bila kami kehabisan uang kiriman, maka tempat itu adalah pelarian yang pas.

Lima belas menit kemudian, Ryan datang dengan raut wajah kecewa. Ia langsung menatapku dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Maaf Us, katanya ngga bisa ngutang dulu
Soalnya udah kebanyakan utang santri-santri lain."

Aku mendesah kecewa, sial padahal aku benar-benar begitu sakau. Air liurku terasa asam karena dari tadi pagi aku memang tidak ada merokok.

"Ini aja, gimana?" Ia memperlihatkan beberapa puntung rokok yang entah didapatnya dari mana.

"Muting lagi nih? Ya udahlah, dari pada sakau."

Hahaha, lucu sekali ketika aku ingat menghisap rokok 'putingan' yang didapatkan Ryan. Dulu merokok bagiku seperti musibah.

Bayangkan, hanya dengan 50 ribu aku harus bisa menghidupi diriku dalam seminggu. Tentu saja itu tidak akan cukup. Berbeda denganku yang kiriman selalu datang setiap minggu, sedangkan Ryan hanya mendapat kiriman sebanyak 50 ribu dalam sebulan. Itu pun tidak pasti, kadang lebih dari sebulan barulah kirimannya datang.

Tapi, ada satu kenangan yang sangat tidak ingin ku ingat. Dan sekarang kenangan itu terputar kembali dalam benakku tanpa ku minta. Ku pejamkan mataku sembari menikmati gejolak rasa bersalah dalam hatiku.

Ryan datang pada malam acara halal bi halal setelah enam bulan pulang kekampungnya karena sakit keras. Ia memelukku dengan hangat, aku bisa melihat senyumnya yang lebar. Tubuhnya semakin kurus, entah separah apa penyakitnya.

"Gimana kabar ente Us?" Itu adalah pertanyaan pertama yang ia lontarkan.

"Baik bro! Ente sendiri? Udah sehatan?" Jawabku pada sahabat yang sudah seperti saudaraku sendiri ini.

"Yagitulah, kalau ngga sehat ane ngga bakalan kesini lah." Ryan tertawa.

Entah apakah ini cuma perasaanku saja, tapi malam ini sorot kata Ryan sarat akan ketakutan, kesedihan, dan... kekhawatiran. Aku bisa kemarasakannya, ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.

Kami cukup lama mengobrol, hingga kemudian ia berpamitan untuk masuk kedalam pesantren. Kebetulan pada saat itu aku bertugas menjaga parkir kendaraan para jemaah yang datang untuk menghadiri acara besar peringatan malam nishfu sya'ban tersebut. Dan hal itu membuatku tidak bisa menemaninya.

Setengah jam kemudian ia kembali lagi. Dan matanya masih menyiratkan hal yang sama. Tapi entah kenapa aku masih enggan untuk bertanya.

"Ane mau nginep, kangen banget sama pesantren." Ucapnya dengan suara sedikit bergetar.

"Ente sih liburnya kebanyakan!" Selorohku dan membuatnya tertawa.

Agak terdengar renyah memang.

"Tapi ane bingung, obat ane ketinggalan dirumah."

"Kalau gitu ngga usah aja dulu Yan, mending enten istirahat aja dulu dirumah."

"Tapi ane bener-bener kangen sama pesantren. Siapa tahu ini hari terakhir buat kesini."

Meskipun ia sedang bercanda, aku tidak menyukainya. Ada perasaan aneh yang ku rasakan saat mendengar ucapan Ryan barusan.

"Kesehatan ente lebih penting Yan." Kataku yang sedang menyembunyikan perasaan kesal.

Ia terdiam sejenak memikirkan perkataanku, "Ya udahlah. Tapi tenang aja Us, sebulan lagi ane bakalan balik kepesantren! Sembuh atau ngga sembuh, ane bakalan tetap balik!"

Kalau saja aku tahu malam itu bukan hari terakhir kali kami bertemu. Dan kalau saja aku tahu malam itu adalah terakhir kalinya ia menginjakkan kaki dipesantren. Dan kalau saja aku tahu akan ada penyesalan terbesar dalam hidupku yang selalu membuatku merasa bersalah.

"Aku akan mengijinkanmu menginap malam itu. Mungkin besok aku akan ziarah kekuburmu, sobat." Batinku saat mengingat kejadian saat tubuh Ryan dimakamkan tepat setelah seminggu pertemuan kami.

Rabu, 03 Desember 2014

Topi Cloche saksi bisu kematian Sheri.

"Aku menyukai topi." Ucap Danu sebelum membunuh Sheri, kekasihnya.

Danu memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Sheri. Setelah keluar dari mobil dan membanting pintu dengan keras, ia menghela nafas sejenak. Diusapnya wajahnya sendiri dengan kasar.

Ia melangkah tergesa menuju rumah dan menggedor pintu dengan tidak sabaran, "Cepat buka!"

Sosok Sheri dihadapan Danu hanya terperangah melihat ekpresi kekasihnya yang terlihat marah. Wajahnya mengeras, dan ia juga mendengar gemeretak gigi Danu.

"Kamu pasti berbohong kan? Kamu bilang akan menyimpannya!" Hardik Danu yang langsung mencekik dan mendorong Sheri.

Sheri yang sudah tersungkur hanya memegang lehernya yang terasa sakit. Ia menatap Danu dengan tatapan tidak percaya. Selama 2 tahun hubungannya bersama Danu, baru kali ini laki-laki yang sangat dicintainya tersebut berani menyakitinya.

"Mana topi yang ku berikan kepadamu?"

Jadi hanya karena masalah topi hingga membuat Danu tega melakukan ini semua?

Sheri bangkit dan segera pergi kekamarnya. Dan kembali kehadapan Danu dengan membawa topi Cloche berwarna seperti warna kayumanis ditangannya yang baru saja ia raup dari tong sampah. Topi pemberian Danu tadi malam saat merayakan ulang tahun Sheri yang ke 20.

"Ini!" Sheri melempar topi hadiah dari Danu tersebut tepat diwajahnya.

Membuat Danu mengerang dengan amarah yang semakin meledak-ledak. "Pakai!"

"Tidak!"

"Pakai!"

"Tidak!"

Sebuah tamparan sukses membuat pipi Sheri memerah dan terasa perih. Butiran-butiran air mata jatuh disudut matanya. Tapi Danu tidak menghiraukannya sedikit pun.

"Pakai!" Kali ini Danu melemahkan suaranya.

"Ti... Tidak..." Lirih Sheri.

Tapi hal itu justru kembali menyulut api amarah dalam diri Danu. Pria itu pun menjambak dengan kasar rambut Sheril serta menyeretnya kekamar mandi. Sheril yang kesakitan terus meronta-ronta dan berteriak meminta pertolongan. Tapi Danu lebih cepat melayangkan tamparannya kewajah cantik Sheri, membuat gadis itu bungkam karena ketakutan.

Danu benci dengan orang yang tidak mau menuruti kemauannya. Ia juga membenci orang yang tidak menyukai memakai topi. Yang membuat Danu begitu menyukai topi karena ia bisa terus mengingat tentang mantan kekasihnya yang meninggal 3 tahun lalu akibat kecelakaan mobil, Claudia.

"Aku menyukai topi! Dan aku menyukai wanita yang senang memakai topi!" Gumam Danu seraya membanting-bantingkan kepala Sheri kedalam air bathup.

Sheri yang sudah megap-megap dan nyaris kehabisan nafas hanya bisa menangis tanpa suara. Ia tidak menyangka jika kejujurannya pada adik Danu akan membuahkan hasil seperti ini. Sheri mengatakan kepada adik Danu bahwa ia akan membuang topi itu karena ia sangat membenci topi.

Baginya, topi hanya membuatnya teringat kembali  kenangan tentang kematian ayahnya yang tewas dibunuh. Ia bahkan masih ingat bagaimana posisi tubuh ayahnya yang tergeletak bersimbah darah, dan banyaknya luka tusukan ditubuhnya. Lalu topi bisbol berwarna biru malam yang berada ditangan mayat ayahnya. Ia ingat betul detail kenangan terburuk dalam hidupnya tersebut.

Setelah beberapa tahun lamanya, barulah pelaku pembunuh ayahnya tertangkap. Pelaku yang ternyata salah orang dengan mengira ayah Sheri adalah orang yang dibencinya hanya bisa  terpuruk dalam penyeselan. Topi yang dipakai oleh ayah Sheri lah penyebab kesalahan si pelaku.

Danu mendekatkan telinga Sheri kebibirnya, "Kenapa kau membenci topi?"

Sheri yang ingin menjawab hanya bisa meringis tanpa suara, tenggorokannya terasa begitu sakit. Nafasnya sudah terputus-putus, akan tetapi tidak ada rasa kasihan sedikitpun yang dirasakan oleh Danu.

"Jawab!" Teriak Danu dengan menghantamkan kepala Sheri kekeran air disamping bathup.

Dalam sekejap keran air yang terbuat dari stenlyss itu bersimbah darah, dan membuat Sheri tidak bernyawa dengan keadaan kepala yang robek dan pecah. Dari lukanya mengalirkan darah segar dan memberi warna merah pada lantai keramik yang berwarna putih cream.

Danu melepaskan cengkraman dikepalanya, mayat gadis itu tersungkur dilantai kamar mandi. Ia baru saja akan pergi sebelum tangan Sheri meraih kakinya.

"Ke... na-pa.. k... kamu... mela... kukan... ini..."

Danu menyeringai kearah wajah Sheri yang diliputi cairan darah. "Aku menyukai topi." Ucap Danu seraya tersenyum tipis.

Kemudian satu injakan sekuat tenaga dikepala gadis itu sukses membuat Sheri benar-benar kehilangan nyawanya. " Dan aku benci dengan orang yang tidak menyukai topi.'

Begitu keluar dari rumah, Danu disambut oleh warga yang berkumpul karena mendengar teriakan-teriakan dari dalam rumah Sheri.

-Tamat....

Cerita ini dibuat untuk event #RabuMenulis yang diadakan oleh @GitaRomadhona dan @GagasMedia. Terimakasih sudah membaca! Salam dari author @BukanDaus.

Janda Cantik

Oke, karena gue udah lama ngga ngeblog, jadi postingan kali ini bakalan sedikit manusiawi. Kenapa gue bilang 'sedikit manusiawi?'. Karena setiap postingan gue itu selalu nista dan kejam bagi para jones-jones nista kayak gue.

Kali ini gue mau curhat, tentang sebuah kejadian dimalam minggu. Gue yang udah bosen malam mingguan sama hape dan laptop doang, memutuskan untuk mencoba sensasi baru. Yakni dengan menikmati malam minggu diluar. Dan gue memutuskan buat nongkrong di cafe.

Kan biasanya setiap malam minggu cafe-cafe pasti ramai oleh pengunjung. Akan tetapi gue ngga memperhitungkan kalau hal tersebut ternyata malah membuat gue menjadi lebih ngenes dan nista. Coba lo bayangin gimana rasanya ketika lo duduk menyendiri ditengah-tengah keramaian. Dari semua pengunjung di cafe, cuma gue yang sendirian! CUMA GUE!!!

Rasanya gue pengen nangis men! Ketika orang-orang pada sibuk bersenda gurau, gue cuma sibuk mantengin layar hape dan dipusingkan oleh status pesbuk seorang anak alay. Sampai saat seorang cewek cantik datang dan duduk semeja dengan gue. Cewek cantik yang ngga gue kenal.

Entah ini pertanda keberuntungan buat gue atau sebaliknya. Cewek cantik itu tersenyum kearah gue yang cuma melongo dan mencoba percaya dengan apa yang sedang terjadi.

"Boleh kan saya duduk disini om?"

Deg! Gue begitu terharu sekaligus kecewa! Terharunya, baru kali ini ada cewek yang mau sama gue! Selama ini telinga gue cuma diberi asupan-asupan oleh pembully-an dari temen-temen gue yang kamfret. Dan serius itu bener-bener ngga baik buat kesehatan telinga.

Dan kecewanya, kenapa ini cewek harus manggil gue om sih? Setua itu kah gue dimata dia? Hiks.

Gue mengangguk dan doi kembali tersenyum. Kemudian itu cewek mengeluarkan laptopnya. Doi pun sibuk berkutat dengan si laptop, membuat gue memiliki pemikiran tentang ini cewek. Jangan-jangan doi juga makhluk jones kayak eke?

Terpintas sebuah rencana licik dipikiran gue. Gue pun berniat modusin ini cewek, siapa tahu gue sama dia itu berjodoh. Jadi gue perlu nyusun strategi yang matang. Pertama-tama gue harus kenalan dulu.

"Lagi ngerjain tugas ya?" Tanya gue sekedar basa-basi.

Doi ngalihin perhatiannya dari laptop, "Ngga om, lagi nulis cerita."

"Panggil aku Daus, kayaknya kita seumuran aja."

Doi terdiam kemudian tersenyum malu-malu. Kayaknya dia menyesal udah manggil cowok sekece gue dengan sebutan kamfret kayak gitu.

"Kamu penulis? Wah, udah bikin buku? Btw, nama kamu siapa?"

"Mawar. Ya cuma penulis amatiran kok. Aku mosting cerita aku diblog."

"Jadi kamu blogger juga?" Tanya gue lagi. Sumpah, ini cewek bener-bener type gue banget!

Doi mengangguk dan gue cuma ber-oh aja sebagai responnya. Kemudian Mawar kembali menyibukkan dirinya dengan laptop yang sedari tadi masih menyala.

Sampai beberapa menit kemudian Mawar kembali bertanya, "Eh tadi kamu bilang blogger juga? Jadi kamu blogger juga?"

"Iya, aku seorang blogger juga."

Kayaknya ini benar-benar pertanda baik buat gue. Kemudian kami pun mengobrol tentang blog kami. Ternyata si Mawar ini lagi bikin project web novel yang udah sampai chapter 8, dan blognya juga banyak banget dikunjungin. Beda banget sama blog gue, udah berdebu orang yang ngunjungi ini blog bisa diitung pakai jari.

Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya kami saling bertukar nomer ponsel. Dan disinilah moment yang mengejutkan gue. Tepat saat hape Mawar berdering. Gue ngga tau pasti, tapi gue yakin yang menelpon Mawar itu pasti anaknya. Soalnya gue sempat mendengar Mawar manggil si penelpon dengan sebutan 'anakku sayang'.

Dan hal itu benar-benar bikin gue kecewa berat bung! Dalam sekejap harapan gue pupus, lenyap tidak bersisa. Hiks...

"Ada apa?" Tanya Mawar yang ngeliat kebahagiaan diraut wajah gue pudar.

Perlu kalian ketahui, gue ini tipe cowok yang frontal. Makanya gue langsung jujur aja sama doi.

"Kecewa."

"Kecewa kenapa?"

"Aku kira kamu itu single. Makanya aku ajakin kenalan. Eh taunya kamu udah punya anak."

Tiba-tiba aja Mawar ketawa terbahak-bahak setelah menyimak kejujuran gue. Oke, ini cewek selain cantik ternyata dia iuga agak sedikit stres.

"Kamu jujur banget, aku emang udah punya anak. Tapi masih single kok."

"Lah, maksudnya?"

"Aku janda."

Kapan terakhir kali gue sujud syukur ya? Ah entahlah, yang pasti sekarang rasanya gue kepengen sujud syukur. Dari semua tipe cewek, gue paling demen sama janda cantik! Silahkan kalau kalian bilang gue ini aneh bin ajaib, tapi menurut gue janda itu lebih menantang dari perawan. Dan sekarang gue lagi berhadapan sama janda kembang yang masih single!

Rasanya gue kepengen teriak buat ngungkapin betapa bahagianya gue hari ini! SELAMAT TINGGAL STATUS LAJANG!

Beberapa hari setelah itu, gue sama Mawar terus mengadakan komunikasi via sms dan telpon. Berlanjut ke media sosial seperti facebook. Hubungan kami udah bisa dikatakan sangat dekat, sampai-sampai dia pernah cemburu gara-gara gue komenan sama cewek difacebook.

Hingga suatu hari gue ngajakin dia buat ketemuan di cafe tempat pertama kali kami bertemu. Dia setuju.

Gue yang udah berdandan rapi, udah siap ngungkapin cinta gue ke Mawar. Biasanya gue ngga pernah dan paling anti pakai minyak wangi. Tapi sekarang pengecualian buat gue. Sampai-sampai nyokap gue nyanyi Biasanya tak pakai minyak wangi~

Huanjer! Sumpah itu horor banget men! Lebih horor dari pada ketemu kuntilanak yang lagi sariawan!

Dan ngga lama kemudian, Mawar pun datang. Tapi dia ngga datang sendirian, dia datang sama seorang cowok yang lagi ngegendong anak kecil. Gue yakin anak kecil itu pasti namanya Cika, ya itu anaknya Mawar.

Cowol itu duduk dan memberikan Cika kepangkuan ibunya. Lalu dia bersalaman sama gue yang masih melongo ditempat. Mawar cuma menatap gue canggung-canggubg. Ada apa gerangan?

"Perkenalkan, nama gue Arman mantan suaminya Mawar. Gue sama Mawar udah sepakat mau balikan, kami mau membangun rumah tangga kami lagi. Jadi gue minta sama lo, jangan ganggu Mawar lagi."

Sialan!

Kamfret!

Setan alas!

Jancuk!

Asu!

Ternyata gue emang lebih cocok hidup ngejomblo ketimbang bergelimangan cinta! Andai aja ada jurang didekat sini, gue pasti akan lonca dan teriak "Emaaaaaaak! Anakmu galau!!!"

Oke, sekian dulu cerita dari gue. Jujur, sebenarnya gue ngga mau mengingat kejadian ini. Tapi demi blog ini, gue terpaksa membuat otak gue yang udah konslet ini mengingat semua kenangan terkamfret dalam hidup gue. Percayalah, cerita ini bener-bener ngenes. Lebih ngenes daripada upil gue yang terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Ya udah, gue mau nangis dulu deh. Terimakasih dan salamal softex! Hiks :'( ;'(