Sendal jepit, sendal yang sudah menemani hidup saya selama bertahun-tahun. Yang selalu setia melindungi telapak kaki saya dikala susah maupun senang. Tidak perduli dalam keadaan OUTDOOR ataupun INDOOR sendal jepit ini masih setia berada dikaki, karena kalau berada didada itu namanya BEHA.
Baru ataupun tidak, sendal jepit tetap menjadi sasaran empuk para PENYAMUN sialan dimesjid tiap hari jum'at. Sendal Jepit memang terkadang dipandang sebelah mata, katanya yang mau memakai sendal itu hanya rakyat jelata. Nyatanya diluar sana para orang kaya masih berhajat dengan sendal jepit, minimal mereka memakai sendal jepit buat ketoilet. Karena tidak mungkin mereka ketoilet memakai sepatu ataupun high heel, karena jatuhnya pasti akan terlihat sangat aneh.
Sendal Jepit selain berfungsi sebagai alas kaki buat jalan-jalan juga dapat dijadikan sebagai pengganti sepatu olahraga. Tidak sedikit orang-orang diluar sana jogging dengan menggunakan sendal jepit. Saya contohnya, maklum karena saya sudah tidak punya sepatu olahraga lagi.
Mulai dari Nippon dan Skywife dua merek berbeda namun menurut saya bentuknya sama saja.
Tapi kali ini saya akan bercerita tentang kebersamaan saya dengan sendal jepit pertama saya. Saya masih ingat betul dengan rupa sendal jepit berwarna hijau yang saya beri nama dengan D. Saya pahat disekujur tubuhnya dengan huruf 'D' ditubuhnya biar dunia tahu bahwa dia cuma milik saya.
Kami memang ditakdirkan untuk bersama, seperti sisi negatif dan positif yang saling melengkapi. Kemana-mana kami selalu berdua, tidur pun berdua karena tidak mungkin saya menaruh D diluar. Takut kalau-kalau D diculik lalu dijual keorang yang salah.
Entah sudah berapa banyak masalah yang kami lalui, tidak terhitung. Tapi saya ingat wejangan teman saya yang mengatakan "masalah dalam setiap hubungan adalah tahap dimana hubungan itu akan semakin erat. Asalkan kita bisa melaluinya."
Mulai dari kesalah pahaman hingga pengkhiatan yang nyaris saja membuat hubungan kami kandas ditengah jalan. Kami pernah bertengkar karena kesalah pahaman yang sebenarnya cukup lucu. Saya mengira D mengkhianati kepercayaan saya dengan cara berpindah kaki keorang lain. Meskipun sebenarnya kaki itu adalah kaki ayah saya sendiri, tapi saya tetap boleh cemburu kan mengingat betapa besar cinta saya kepada D?
Hampir berhari-hari saya tidak bertegur sapa dengan D. Setiap kali saya jalan-jalan, saya tidak pernah mengajaknya. Bahkan saya sempat mendapat gebetan baru untuk kaki saya. Lebih sempurna dan high class, walau pun sebenarnya saya juga menikung gebetan kaki ayah saya. Anggap saja ini seperti balas dendam. Disini kadang saya merasa durhaka...
Hingga sampai puncaknya, D dicampakkan begitu saja oleh ayah. Entah karena alasan apa, saya tidak tahu dan tidak ingin tahu. Walhasil D selalu kesepian mengingat saya dan dia juga masih dalam keadaan bertengkar. Namun lama kelamaan saya tidak tega juga melihat dia yang sendiri terus, kesepian dan selalu merasa sendirian. Saya tidak ingin dia berubah menjadi JABLAY yang selalu menggoda kaki-kaki lain untuk memakainya, akhirnya saya menyerah dan mengajak D berbaikan.
Semenjak itu saya semakin lebih mesra dengan D, bahkan saya kerap membawa D kesekolah. Hidup saya sudah sangat bearti semenjak adanya D yang selalu setia menemani saya kemanapun saya melangkah.
Hingga sebuah musibah datang menghampiri saya. Waktu itu tepatnya hari Jum'at, saya meninggalkan D didepan mesjid karena saya harus masuk untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang pria sejati. Setelah selesai shalat jum'at, saya keluar dan saya tidak mendapati D ditempatnya. Saya sudah mencari-carinya keseluruh pelosok mesjid, namun nihil karena saya tidak menemukannya. Seketika pikiran saya langsung kalut, saya begitu panik membayangkan D berada dikaki yang salah.
Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan dia?
Bagaimana kalau dia diperlakukan dengan tidak senonoh?
Entah berapa banyak pertanyaan 'bagaimana' yang muncul dalam benak saya pada waktu itu. Yang jelas tujuan saya pada waktu itu hanya satu, menelpon polisi. Tapi bukannya mendapatkan pertolongan, justru saya dicaci maki oleh pak polisi. Saya bahkan dikatakan sudah gila oleh pemilik suara yang penuh dengan emosi tersebut.
Saya pun memutuskan untuk pulang kerumah, dan menghambur kepelukan ibu saya begitu sudah sampai. Ibu sempat bertanya-tanya kenapa saya menangis seperti itu. Saya pun menceritakan semuanya, dan ibu saya nyaris saja mengajak saya keseorang psikologis.
Percayalah, itu rasanya sakit sekali. Lebih menyakitkan dari pada anda sudah selesai berak dan mau cebok, ternyata persediaan air habis.
Berhari-hari saya tidak bisa tidur memikirkan keadaan D, saya benar-benar frustasi pada saat itu. Yang saya lakukan hanya mengurung diri didalam kamar, tidak makan dan tidak minum sama sekali. Sampai akhirnya saya bosan, saya pun memutuskan untuk keluar mencari udara segar.
Saya berjalan mengitari jalanan yang sudah ramai, maklum karena hari sudah sore. Hingga akhirnya mata saya tertuju pada satu sendal jepit yang berwarna hijau tergeletak mengenaskan ditengah jalan. Sebelum sendal itu sempat terlindas oleh sebuah motor yang sedang melaju, saya berhasil menyelamatkannya pada detik-detik terakhir. Sungguh, saya tidak percaya saya dapat melakukan tindakan sekeren itu.
Saya berguling dipinggir jalan sambil tetap memeluk erat sendal jepit yang baru saja saya selamatkan. Saat saya melihat keadaan sendal jepit itu, alangkah terkejutnya saya ketika menyadari sendal itu adalah sebagian dari D (tepatnya bagian sebelah kiri). Saya tidak kuasa menahan tangis melihat D yang keadaannya sangat mengenaskan. Moncongnya yang sedikit robek, ditambah alas bagian atasnya sudah berwarna kuning dan sangat usang, bagian tumit yang sudah sangat tipis. Saya tak kuasa melihat semua luka-luka itu, D pasti sudah disiksa habis-habisan oleh penjahat keji itu. Dan saya meneriakkan nama D yang sudah kehilangan nyawanya, tidak memperdulikan tatapan orang-orang disekitar saya.
Baiklah, saya rasa cukup sampai disini saja cerita dari saya. Saya tidak sanggup, saya tidak kuat... disini saya kadang merasa sedih...
Jujur, saya menangis menulis entah apakah ini pantas disebut sebuah cerpen. Saya merasa imajinasi saya sangat liar, sepertinya otak saya kembali sengklek. Terimakasih
Wasalam.
Ngomong-ngomong, itu ada pict D ketika awal-awal kami bertemu sebelum masa PDKT.