Aku tersenyum miris saat menatap puntung-puntung rokok yang berhamburan dilantai kamarku. Asbak yang seharusnya menampung abu dan puntung rokok tersebut tergeletak dengan posisi terbalik disamping kasur.
Dengan cekatan ku petik puntung-puntung rokok tersebut dan mengembalikannya kedalam asbak. Dan gerakanku terhenti manakala tanganku menggapai puntung rokok yang masih panjang. Yang kira-kira masih bisa dihisap 2-3 kali lagi. Puntung rokok tersebut membuatku teringat kembali padanya. Dan hal itu membuat dadaku terasa sedikit sesak.
Aku jadi teringat kenangan saat kami masih dipesantren.
"Nih, ente sakau kan?" Ryan menyerahkan satu puntung rokok yang masih bisa dihisap beberapa kali.
Aku menghernyit, "Ente muting?"
"Iya, dari pada kita sakau?"
"Terus ente gimana?"
"Tenang aja." Ia tersenyum lebar kemudian ia menunjukkan puntung rokok lain ditangannya.
Kemudian kami menyalakan puntung rokok itu bersama-sama. Asapnya yang kami hembuskan nampak menyatu dengan udara malam yang semakin dingin.
Ku rasakan bibirku membentuk sebuah lengkungan saat mengingatnya. Seingatku, kejadian itu saat pertama kali aku mulai akrab dengan Ryan. Sebenarnya aku sangat sulit untuk berteman, karena aku seseorang yang begitu hati-hati dalam memilih teman
"Yan, ane boleh minta tolong ngga?" Tanyaku suatu sore saat bersantai dibelakang pesantren.
"Apa Us?"
"Ente kewarung gih, ngutang sebungkus rokok dulu. Besok kan kiriman ane datang, ane bakalan langsung lunasin deh. Bilangin gitu sama ibu warungnya."
Ryan mengangguk kemudian pergi kewarung
Kebetulan warung tersebut terletak tidak jauh dari pesantren, dan warung itu memang tempat langganan semua santri. Bila kami kehabisan uang kiriman, maka tempat itu adalah pelarian yang pas.
Lima belas menit kemudian, Ryan datang dengan raut wajah kecewa. Ia langsung menatapku dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf Us, katanya ngga bisa ngutang dulu
Soalnya udah kebanyakan utang santri-santri lain."
Aku mendesah kecewa, sial padahal aku benar-benar begitu sakau. Air liurku terasa asam karena dari tadi pagi aku memang tidak ada merokok.
"Ini aja, gimana?" Ia memperlihatkan beberapa puntung rokok yang entah didapatnya dari mana.
"Muting lagi nih? Ya udahlah, dari pada sakau."
Hahaha, lucu sekali ketika aku ingat menghisap rokok 'putingan' yang didapatkan Ryan. Dulu merokok bagiku seperti musibah.
Bayangkan, hanya dengan 50 ribu aku harus bisa menghidupi diriku dalam seminggu. Tentu saja itu tidak akan cukup. Berbeda denganku yang kiriman selalu datang setiap minggu, sedangkan Ryan hanya mendapat kiriman sebanyak 50 ribu dalam sebulan. Itu pun tidak pasti, kadang lebih dari sebulan barulah kirimannya datang.
Tapi, ada satu kenangan yang sangat tidak ingin ku ingat. Dan sekarang kenangan itu terputar kembali dalam benakku tanpa ku minta. Ku pejamkan mataku sembari menikmati gejolak rasa bersalah dalam hatiku.
Ryan datang pada malam acara halal bi halal setelah enam bulan pulang kekampungnya karena sakit keras. Ia memelukku dengan hangat, aku bisa melihat senyumnya yang lebar. Tubuhnya semakin kurus, entah separah apa penyakitnya.
"Gimana kabar ente Us?" Itu adalah pertanyaan pertama yang ia lontarkan.
"Baik bro! Ente sendiri? Udah sehatan?" Jawabku pada sahabat yang sudah seperti saudaraku sendiri ini.
"Yagitulah, kalau ngga sehat ane ngga bakalan kesini lah." Ryan tertawa.
Entah apakah ini cuma perasaanku saja, tapi malam ini sorot kata Ryan sarat akan ketakutan, kesedihan, dan... kekhawatiran. Aku bisa kemarasakannya, ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.
Kami cukup lama mengobrol, hingga kemudian ia berpamitan untuk masuk kedalam pesantren. Kebetulan pada saat itu aku bertugas menjaga parkir kendaraan para jemaah yang datang untuk menghadiri acara besar peringatan malam nishfu sya'ban tersebut. Dan hal itu membuatku tidak bisa menemaninya.
Setengah jam kemudian ia kembali lagi. Dan matanya masih menyiratkan hal yang sama. Tapi entah kenapa aku masih enggan untuk bertanya.
"Ane mau nginep, kangen banget sama pesantren." Ucapnya dengan suara sedikit bergetar.
"Ente sih liburnya kebanyakan!" Selorohku dan membuatnya tertawa.
Agak terdengar renyah memang.
"Tapi ane bingung, obat ane ketinggalan dirumah."
"Kalau gitu ngga usah aja dulu Yan, mending enten istirahat aja dulu dirumah."
"Tapi ane bener-bener kangen sama pesantren. Siapa tahu ini hari terakhir buat kesini."
Meskipun ia sedang bercanda, aku tidak menyukainya. Ada perasaan aneh yang ku rasakan saat mendengar ucapan Ryan barusan.
"Kesehatan ente lebih penting Yan." Kataku yang sedang menyembunyikan perasaan kesal.
Ia terdiam sejenak memikirkan perkataanku, "Ya udahlah. Tapi tenang aja Us, sebulan lagi ane bakalan balik kepesantren! Sembuh atau ngga sembuh, ane bakalan tetap balik!"
Kalau saja aku tahu malam itu bukan hari terakhir kali kami bertemu. Dan kalau saja aku tahu malam itu adalah terakhir kalinya ia menginjakkan kaki dipesantren. Dan kalau saja aku tahu akan ada penyesalan terbesar dalam hidupku yang selalu membuatku merasa bersalah.
"Aku akan mengijinkanmu menginap malam itu. Mungkin besok aku akan ziarah kekuburmu, sobat." Batinku saat mengingat kejadian saat tubuh Ryan dimakamkan tepat setelah seminggu pertemuan kami.
2 komentar:
begitu berharganya sebuah puntung rokok :)
Dan kenangan tentang puntung rokok itu jauh lehih berharga :) terimakasih sudah berkomentar disini :)
Posting Komentar